Buku ini lahir dari kepedulian terhadap realitas kehidupan mahasiswa yang semakin kompleks. Di balik dinamika akademik, tuntutan prestasi, dan ekspektasi sosial, mahasiswa adalah manusia yang sedang belajar mengenali diri, mengelola emosi, dan mencari arah hidup. Tidak sedikit mahasiswa yang mampu bertahan, tetapi tidak semua memiliki ruang yang cukup untuk memahami apa yang sebenarnya mereka alami.

Dalam konteks tersebut, daya bangkit menjadi keterampilan hidup yang penting. Daya bangkit tidak dimaknai sebagai ketangguhan yang meniadakan rasa lelah atau luka, melainkan sebagai kemampuan untuk kembali berdiri, belajar dari pengalaman, dan melanjutkan langkah dengan kesadaran yang lebih matang. Buku ini berangkat dari keyakinan bahwa daya bangkit dapat dipelajari dan dilatih melalui pendekatan yang manusiawi dan berkelanjutan.

Sikap bersyukur dipilih sebagai pintu masuk utama dalam proses penguatan daya bangkit. Bersyukur dalam buku ini tidak dipahami secara sempit sebagai ucapan atau ritual, melainkan sebagai sikap batin yang membantu individu memandang kehidupan secara lebih seimbang. Melalui sikap bersyukur, mahasiswa diajak mengenali hal-hal baik yang hadir dalam keseharian, menerima emosi yang menyertai pengalaman hidup, serta memaknai peristiwa, termasuk yang sulit, sebagai bagian dari proses pembelajaran.